Rabu, Februari 18, 2009

Capoeira : Game, Dance, dan Fight


CAPOEIRA merupakan sebuah olah raga bela diri yang dikembangkan oleh para budak Afrika di Brasil pada sekitar tahun 1500-an. Gerakan dalam capoeira menyerupai tarian dan bertitik berat pada tendangan. Pertarungan dalam capoeira biasanya diiringi oleh musik dan disebut Jogo. Capoeira sering dikritik karena banyak orang meragukan keampuhannya dalam pertarungan sungguhan, dibanding seni bela diri lainnya seperti Karate atau Taekwondo.
Capoeira adalah sebuah sistem bela diri tradisional yang didirikan di Brazil oleh budak-budak Afrika yang dibawa oleh orang-orang Portugis ke Brazil untuk bekerja di perkebunan-perkebunan besar. Pada zaman dahulu mereka melalukan latihan dengan diiringi oleh alat-alat musik tradisional, seperti berimbau (sebuah lengkungan kayu dengan tali senar yang dipukul dengan sebuah kayu kecil untuk menggetarkannya) dan atabaque (gendang besar), dan ini juga lebih mudah bagi mereka untuk menyembunyikan latihan mereka dalam berbagai macam aktivitas seperti kesenangan dalam pesta yang dilakukan oleh para budak di tempat tinggal mereka yang bernama senzala.
Ketika seorang budak melarikan diri ia akan dikejar oleh “pemburu” profesional bersenjata yang bernama capitães-do-mato (kapten hutan). Biasanya capoeira adalah satu-satunya bela diri yang dipakai oleh budak tersebut untuk mempertahankan diri. Pertarungan mereka biasanya terjadi di tempat lapang dalam hutan yang dalam bahasa tupi-guarani (salah satu bahasa pribumi di Brazil) disebut caá-puêra – beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa inilah asal dari nama seni bela diri tersebut.
Mereka yang sempat melarikan diri berkumpul di desa-desa yang dipagari yang bernama quilombo, di tempat yang susah dicapai. Quilombo yang paling penting adalah Palmares yang mana penduduknya pernah sampai berjumlah sepuluh ribu dan bertahan hingga kurang lebih selama enam puluh tahun melawan kekuasaan yang mau menginvasi mereka. Ketua mereka yang paling terkenal bernama Zumbi.
Ketika hukum untuk menghilangkan perbudakan muncul dan Brazil mulai mengimport pekerja buruh kulit putih dari negara-negara seperti Portugal, Spanyol dan Italia untuk bekerja di pertanian, banyak orang negro terpaksa berpindah tempat tinggal ke kota-kota, dan karena banyak dari mereka yang tidak mempunyai pekerjaan mulai menjadi penjahat. Capoeira, yang sudah menjadi urban dan mulai dipelajari oleh orang-orang kulit putih, di kota-kota seperti Rio de Janeiro, Salvador da Bahia dan Recife, mulai dilihat oleh publik sebagai permainan para penjahat dan orang-orang jalanan, maka muncul hukum untuk melarang Capoeira.
Setelah kurang lebih setengah abad berada dalam klandestin, dan orang-orang mepelajarinya di jalan-jalan tersembunyi dan di halaman-halaman belakang rumah, Manuel dos Reis Machado, Sang Guru (Mestre) Bimba, mengadakan sebuah pertunjukan untuk Getúlio Vargas, presiden Brazil pada waktu itu, dan ini merupakan permulaan yang baru untuk capoeira.
Mulai didirikan akademi-akademi, agar publik dapat mempelajari permainan capoeira. Sejak masa itu hingga masa sekarang capoeira melewati sebuah perjalanan yang panjang. Saat ini capoeira dipelajari hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Di Medan Capoeira pertama sekali dikenal tahun 2004 di kampus Universitas Katholik Santo Thomas. Di mulai dari pemuda yang bernama Wahid Simanjuntak, yang mengenalkan jenis seni bela diri ini.
"Dari Bang Wahid-lah kami kenal Capoeira. Kami diperlihatkan seni bela diri sekaligus tarian yang menawan," ujar Daniel, Humas Jingga Fermi Medan yang biasa berlatih di Lapangan Merdeka.
Di Medan sendiri terdapat tiga titik latihan Capoeira. Di Lapangan Merdeka, di Unika yang saat ini Capoeira sendiri telah menjadi salah satu ekstrakurikuler, dan di Royal Sumatra. Dari ketiga titik ini, terdapat sekitar seratusan orang yang telah menjadi anggotanya.
“Capoeira mengandung tiga unsur, yaitu game, dance, dan fight. Dimana ketiga unsur ini menimbulkan sikap tentang persahabatan dan silahturahmi,” ujar Julius, salah seorang instruktur Capoeira. (**/dari berbagai sumber)

Selasa, Februari 17, 2009

BUDIDAYA MELATI, BISNIS YANG SEMAKIN MEKAR DAN HARUM

MELATI (Jasminum sp) termasuk tanaman hias yang mampu hidup bertahun-tahun. Batangnya yang tegak serta memiliki bunga berwarna putih mungil dan harum, sering digunakan untuk berbagai kebutuhan. Bunga melati bermanfaat sebagai bunga tabur, bahan industri minyak wangi, kosmetika, parfum, farmasi, penghias rangkaian bunga dan bahan campuran atau pengharum teh.
Melati pun dapat berbunga sepanjang tahun serta tumbuh subur pada tanah yang gembur dengan ketinggian sekitar 600 atau 800 meter di atas permukaan laut, asalkan mendapatkan cukup sinar matahari. Melati dapat dikembangbiakkan dengan cara stek. Tunas-tunas baru pun akan tampak setelah berusia sekitar 6 minggu.
Awalnya, tak banyak yang melirik budidaya bunga melati. Kesulitan dalam pemasarannya turut menjadi kendala utama.
Namun kini pengembangan usaha tani melati skala komersial mempunyai prospek cerah dan peluang pasarnya bagus. Tiap hari untuk keperluan tabur bunga dibutuhkan ratusan kilogram bunga melati.
Pasar potensial bunga melati adalah Jepang, Korea, Thailand, Taiwan dan Hongkong. Nilai ekonomi bunga melati semakin dibutuhkan dalam kehidupan maju (modern) untuk bahan baku industri minyak wangi, kosmetik, pewangi, penyedap the, cat, tinta, pestisida, pewangi sabun dan industri tekstil.
Meski peluang pasar bunga melati di dalam dan luar negeri cukup besar, produksi bunga melati Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 2% dari kebutuhan melati pasar dunia. Fenomena ini menunjukan peluang yang perlu dimanfaatkan dengan baik di Indonesia karena potensi sumber daya lahan amat luas dan agroekologinya cocok untuk tani melati.
Hasil studi agribisnis melati yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura di Tegal (Jawa Tengah) menunjukan bahwa usaha tani melati menguntungkan dan layak dikembangkan.
Atau untuk lebih konkritnya, bisa menilik sukses yang telah dilakukan para petani melati di Desa Agropolitan Bejiharjo Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, yang membudidayakan tanaman bunga melati di Dusun Grogol I seluas satu hektar.
Tahap pertama dikembangkan seluas 3.500 meter persegi, hasil budidaya tiap kilogram dibeli Rp 30 ribu. Sedangkan produksi per seribu meter persegi tiap hari rata-rata mencapai satu kilogram. Hasil penen ini mulai dapat dipetik setelah tanaman berumur delapan bulan. Dengan rata-rata tiap hari menghasilkan 4 kilogram bunga melati, maka penghasilan perhari mencapai rata-rata Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu.
Kalau sudah begitu, tentu saja budidaya melati bisa jadi bisnis yang cukup menguntungkan, dan semakin hari prospeknya semakin mekar dan harum seiring mekar dan harumnya bunga tersebut di pagi hari. (**/dari berbagai sumber)

Minggu, Februari 15, 2009

KIPRAH ‘SINGA MUDA’ DALAM PENTAS POLITIK : WACANA KEPEMIMPINAN KAUM MUDA



KAUM muda seolah sedang mendapat angin segar. Peran kaum muda - terutama dalam politik serta kepemimpinan nasional dan lokal - muncul sebagai sebuah keniscayaan. Dalam konteks politik nasional, kepemimpinan kaum muda mendapat spirit perjuangan ketika Indonesia merayakan 100 tahun kebangkinan nasional.
Ibarat sebuah organisme, organisasi negara membutuhkan penyegaran, atau pembeliaan. Sebuah organisasi yang tertutup kepada pembeliaan akan menjadikan organisasi itu mandek dan pada akhirnya mati. Dalam konteks partai politik, pembeliaan itu disebut dengan kaderisasi. Karena itulah, sebuah partai politik meniscayakan munculnya kader-kader muda yang akan meneruskan roda kepemimpinan organisasi. Dalam konteks ini, munculnya kaum muda adalah keharusan bagi keberlanjutan organisasi dan kematangan demokrasi.
Mengutip pengamat politik Universitas Indonesia, Eep Saefulloh Fatah, peta perpolitikan nasional - dan lokal - saat ini memperlihatkan gejala gerontokrasi. Yakni pemerintahan oleh kaum kaum tua - di atas lima puluh tahun. Kaum muda yang berkiprah dalam pentas politik nasional masih sangat kurang. Karena itulah, tak heran kalau muncul berbagai desakan agar kaum tua legowo dan menyerahkan pucuk pimpinan kepada kaum muda.
Wacana kepemimpinan kaum muda yang mulai dicetuskan pada tanggal 20 Mei 2008 ini terus bergulir. Partai politik - besar dan kecil - menanggapi desakan itu dengan serius dan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah melalui pencalonan anggota legislatif. Hampir semua partai politik mengakomodasi calon kaum muda. Terlepas dari apakah dia potensial atau karena karbitan, yang penting usianya terbilang muda.
’Singa-singa’ muda ini diyakini akan membawa angin perubahan. Kepercayaan masyarakat pemilih kepada kaum muda juga meningkat seiring makin rapuhnya peran kepemimpinan ’singa tua’.
Pertanyaannya, apakah partai politik yang mengakomodasi caleg muda terbesar otomatis mengantongi suara paling banyak? Apakah dengan menjual tampang muda caleg muda dapat dengan mudah terpilih menjadi anggota dewan? Tentu tidak semudah itu jawabnya.
Kepercayaan (trust) tidak serta merta mendorong masyarakat menjatuhkan pilihan kepada calon kaum muda. Karena itu, harus ada jurus-jurus manjur agar kepercayaan itu berubah wujud menjadi keterpilihan. Atau justru kita harus menelaah kritikan, bahwa wacana pemimpin muda dan tua hanya berorientasi pada kekuasaan semata. Sebab katanya, jika politik dibagi-bagi berdasarkan usia tidak elegan. Harusnya, untuk memilih seorang pemimpin dilihat berdasarkan kemampuan dan pikiran, bukan dikotomi tua-muda.
Nah, jika begitu kaum muda ditantang dan diuji. Bukan hanya berhadap-hadapan dengan politisi tua, tapi elektabilitasnya harus dibuktikan akan diuji di lapangan, khususnya di panggung kampanye. Apakah mereka benar-benar mampu atau sekadar meminta jatah. (**)

Menciptakan Imej yang Muda yang Berkarya
APA sebenarnya latar belakang ketertarikan, juga visi misi para calon anggota legislatif (Caleg) muda untuk terjun ke kancah persaingan Pemilu 2009 nanti?Bobby Oktavia Zulkarnain, calon legislatif dari Partai Matahari Bangsa (PMB) untuk DPRD Medan dari Daerah Pemilihan IV (Medan Timur, Perjuangan dan Tembung) mengutarakan latarbelakangnya ikut dalam persaingan merebut kursi legislatif, untuk membuktikan bahwa orang muda juga mampu berbuat untuk masyarakat. Dia merasa mampu berbuat untuk masyarakat, dengan kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki.
”Saya pribadi ingin menciptakan imej yang muda yang berkarya. Bahwa sekarang ini, orang-orang muda tak bisa dipandang sebelah mata atau dianggap remeh perannya dalam kehidupan bermasyarakat termasuk dalam kiprahnya di dunia politik,” katanya.
Bobby tak mau disebut latah-latahan atau sekadar terikut euforia reformasi. Pengalaman di organisasi kemasyarakatan serta menjadi kader partai politik, menurutnya, menjadi modal dan menjadikannya tahu dengan seluk-beluk politik dan konsekuensi yang harus dilakukan jika nantinya terpilih menjadi anggota legislatif.
”Saya optimistis keberadaan anak muda mampu membawa perbaikan pada legislatif secara kelembagaan. Jika terpilih, kami kaum muda tetap akan menjadi sebuah kekuatan pembaharu," ujar Wakil Sekretaris IPK Medan Perjuangan yang juga Danyon Satrio Senopati Pujakesuma Kota Medan.
Dia pun tak memungkiri, harapan masyarakat terhadap para caleg dari kalangan muda sangat besar, seiring krisis kepercayaan terhadap politikus-politikus senior yang nyatanya banyak tak menyahuti aspirasi konstituennya.
”Kalau hanya sekadar modal nekat, dan tak punya kemampuan, akan sangat berat konsekuensinya karena pada akhirnya masyarakat juga yang akan menilai kinerja para wakilnya tersebut. Jadi, untuk terjun menjadi Caleg saja sudah harus diuji kemampuannya, apalagi jika nantinya benar-benar terpilih,” ujar putra almarhum Drs H Zulkarnain Malik, tokoh PPP yang juga pernah menjadi anggota legislatif di DPRD Medan dan Sumut.
Hampir senada yang dikatakan Dessy Listiawaty, Caleg nomor 2 Dapem Deli Serdang untuk DPRD Sumatera Utara dari Partai Pemuda Indonesia (PPI). Dia juga mengatakan, kehadiran mereka para ’singa muda’ dalam kancah politik, juga untuk menyahuti suara nurani masyarakat dan diri sendiri yang rindu perubahan dalam tatanan sosial masyarakat, di tengah krisis kepercayaan kepada politikus senior yang justru banyak mengecewakan.
”Masyarakat butuh nuansa baru di perpolitikan, tidak ingin wajah yang itu-itu saja dengan kinerja yang sulit diharapkan. Secara pribadi, kerinduan akan perubahan itu ada di diri saya, yang akhirnya memunculkan keinginan untuk terjun menyahuti aspirasi perubahan tersebut,” ucapnya.
Soal paradigma bahwa Caleg muda miskin pengalaman, Dessy menampiknya. Dia katakan, pengalaman bukan tergantung usia, karena banyak juga anak muda sekarang yang punya seabreg pengalaman dan kemampuan. ”Pengalaman bisa didapat dari proses sosialisasi, apalagi generasi sekarang mungkin lebih cepat mengakses pengetahuan baik itu pendidikan formal ayaupun nonformal,” katanya.
Dessy sendiri mengaku, di usianya yang 27 tahun sekarang ini dia banyak menimba ilmu dan bersosialisasi dari aktivitasnya di LSM anak yang dibinanya. Serta pengalaman politik dengan menjadi kader PDI Perjuangan dan kini menjabat pengurus di DPD PPI Sumut. ”Jadi sebenarnya kalau dibilang masih mentah di dunia politik, tidak juga,” katanya.
Sedangkan Drs Husni Lubis, calon legislatif Partai Amanat Nasional (PAN) untuk DPRD Sumatera Utara dari daerah pemilihan Asahan, Tanjung Balai dan Batubara, dihadapkan pada wacana pemimpin atau calon legislatif tua-muda, mengakui calon legislatif tua unggul di pengalaman. “Tapi yang muda, di samping lebih enerjik, juga etos kerjanya relatif lebih tinggi. Satu lagi keuntungannya, masyarakat kini butuh figur yang lebih berani mengontrol pemerintah dan belum memiliki ikatan-ikatan dengan pemerintahan. Dan itu diarahkan pada sosok muda,” ucapnya.
Jurus Kampanye
Mengandalkan figur muda saja memang tidak cukup. Butuh pendekatan dan strategi yang lebih populis agar kemudaan bermetamorfosa melahirkan kepercayaan dan keterpilihan.
Husni Lubis mengatakan, dalam kampanye dirinya menggunakan jurus pendekatan budaya lokal atau kultural untuk memenangkan persaingan. ”Yang terpenting sebenarnya, bagaimana menyentuh hati masyarakat dengan pendekatan-pendekatan yang kita lakukan. Pertama pendekatan melalui mesin partai sendiri, dan kedua pendekatan kultural melalui keluarga,” katanya.
Karena itu, Husni sering mengunjungi konstituen dari pondok ke pondok, dari rumah ke rumah. Ia juga menggalang tokoh muda setempat untuk melakukan perubahan. Lewat pengalaman yang dimiliki, dia yakin bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat baik itu ilmu maupun pengalamannya tadi, jika terjun langsung ke masyarakat.
”Tiga kali saya mengikuti pelatihan tim tehnis Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan, itu bisa menjadi bekal untuk memberi sentuhan langsung ke masyarakat desa,” katanya. (**)

GALERI FOTO - ULAR SAHABAT KITA

INGIN lihat aneka jenis ular serta aktivitas di penangkaran milik PT Hetts Bio Lestari, Tuntungan, Deli Serdang? Sebelumnya ini nih saya tampilkan sejumlah foto yang mungkin bisa menjadi gambaran bagi Anda yang mungkin penasaran dengan binatang melata ini.Sehari-hari, Hetts selain menangkarkan ular untuk keperluan bisnis, juga memberikan edukasi misalnya berupa pameran, serta menerima pengunjung yang ingin tahu dan lebih mengenal dekat tentang ular. Untuk lebih detilnya, Anda juga bisa klik tulisan-tulisan sebelumnya yang berhubungan dengan ular. (**)

































































Sabtu, Februari 14, 2009

ULAR SAHABAT KITA

PADA suatu kesempatan liburan Imlek lalu, Zacky bersama saudara dan beberapa temannya diajak orangtua masing-masing mengunjungi penangkaran ular milik PT Hetts Bio Lestari di Jalan Namo Pencawir, Kecamatan Tuntungan, Deli Serdang.

Melihat ular? Awalnya bocah berusia 3,5 tahun itu terperangah hahkan langsung bersembunyi di balik badan ayahnya. Apalagi, bukan hanya satu, dua atau sepuluh ekor ular yang dilihatnya di situ. Namun ada puluhan ekor dari berbagai jenis dan ukuran.

Tapi rasa takut rupanya hanya sebentar. Dirayu-rayu, dan disodorkan seekor ular Pelangi, lambat laun timbul juga keberanian dan rasa ingin tahunya. Dari sekadar mendekat, menyentuh, mengelus, akhirnya berani juga dia memegang ular sepanjang lebih kurang tiga jengkal dan besar seukuran jari telunjuk orang dewasa itu.

Terpuaskanlah keingintahuan si bocah ini. Menyaksikan dan memegang langsung binatang yang selama ini hanya dilihatnya lewat layar kaca, melalui siaran Panji Sang Penakluk atau program-program pengetahuan alam yang sering disiarkan stasiun-stasiun televisi.

Tak cukup ular Pelangi yang memang tak berbahaya, akhirnya kepingin juga dia menyentuh dan memegang jenis ular lain yang lebih besar. Seekor ular Phyton berukuran kecil pun dipegang, bahkan yang lebih besar pun coba dielus walau tetap dalam pengawasan petugas yang ahli.

Mengenalkan jenis satwa liar semacam ular, mungkin bisa jadi pilihan edukasi bagi anak. Atau juga bagi orang dewasa yang selama ini ‘anti’ terhadap binatang melata ini.

Kenapa ular? Sebab satwa liar ini yang hidupnya paling dekat dengan kita, walau keberadaannya sering kali membuat kita tidak nyaman bahkan cenderung membuat kita ketakutan.

“Karena itu, misi PT Hetts Bio Lestari bukan sekadar menangkarkan ular demi kepentingan bisnis, tapi ikut berperan mengedukasi masyarakat tentang jenis-jenis ular, karakteristik serta yang utama tingkat bahayanya,” kata Ir Dedi Sumantri, staf PT Hetts Bio Lestari yang menangani divisi ular.

Sejatinya, ular merupakan salahsatu komponen penting dalam mata rantai kehidupan. Dan juga banyak manfaat yang bisa didapat dari ular, sebagai contoh dalam bidang kesehatan dan pertanian sebagaimana yang kini dikembangkan PT Hetts Bio Lestari.

“Oleh karena itu, kita harus mengenali jenis-jenis ular yang ada di sekitar kita. Di Indonesia, ada sekira 350 jenis yang terdata, dari sekian banyak itu hanya lima persen yang berbahaya bagi manusia. Paling tidak kita kenali jenis-jenis ular yang berbahaya, dibandingkan menyamaratakan semua ular berbahaya dan harus dibunuh,” papar Dedi.

Karena perannya yang penting dalam mata rantai kehidupan serta aneka manfaat lain yang bisa diambil, kita memang tak boleh memusnahkan ular dari bumi ini. Yang harus kita lakukan adalah bagaimana caranya kita dapat hidup berdampingan dan lebih bersahabat dengan mereka, tanpa saling mengancam dan menyakiti. (**)

PAK GUBERNUR PUN TERTARIK PADA ULAR

PADA kesempatan grand launching kawasan Agro Tecno Park Bahorok, Kamis (8/1) lalu, ada hal lain yang menarik selain hamparan kolam ikan, sawah dan kebun tanaman. Ada satu stand yang mendapat banyak perhatian pengunjung selama acara grand launching tersebut.

Stand milik PT Hetts Bio Lestari ini, memang hanya sebagai ‘bintang tamu’ dan bukan bagian dari Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bahorok alias hanya tampil satu hari.

Menarik, karena di stand tersebut ditampilkan puluhan ekor ular eksotik, tikus putih, mencit dan ulat, semuanya dalam kondisi hidup.Ular? Gubernur Sumatera Utara H Syamsul Arifin pun sempat tertegun saat melintas di depan stand tersebut. Dari jauh, sepertinya Beliau tak mengira deretan kotak yang tersusun di rak berisi ular.

“Ini ular ya?” tanya Gubsu, langsung tertarik. Komisaris PT Hetts Bio Lestari Ir Elianor Sembiring dan Dirut Ir Sulaiman Ginting pun menjelaskan ini-itu soal ular-ular tersebut dan fungsi serta kaitannya dengan pertanian organik.

Hari itu, ada 28 ekor ular yang dibawa ke arena pameran itu, dari berbagai spesies seperti wagleri, reticulatus dan lain-lain, mulai yang tak berbisa, berbisa sedang hingga amat mematikan.

Bekerjasama dengan GTZ Jerman, Hetts mengembangkan satu teknologi pembuatan prorodent yang disebut dengan bio prodencia. Di mana bio prodencia ini adalah pembunuh tikus secara biologi.

“Semua produk yang dihasilkan perusahaan ini adalah biologis. Tidak memakai bahan kimia dan tidak berbahaya untuk makhluk lain. Ini khusus untuk semua jenis tikus, dan tidak berbahaya bila dikonsumsi makhluk lain temasuk manusia,” kata Elianor Sembiring.

Menurut Elianor, pembasmi tikus ini dibuat dari kotoran ular spesies Phyton reticulates atau yang lebih dikenal dengan sebutan ular sawah atau ular sanca.
Namun, perusahaan yang mempunyai penangkaran di Jalan Namo Pencawir, Tuntungan, Deli Serdang ini tidak saja membiakkan ular jenis reticulatus tapi juga ular-ular jenis eksotik lainnya, plus tikus jenis ratus sebagai makanan ular dan ulat untuk umpan ikan dan burung hias.

Hetts menjadi undangan khusus Balitbang Provsu sekaitan rencana pengembangan ke depan mendirikan agro tecno park lainnya setelah di Bahorok ini.
Kepala Balitbang Provsu, T Azwar Aziz, mengatakan pihaknya pada 2010 mendatang berencana mengembangkan agro tecno park tanaman langka di Gurgur, Tapanuli Utara, serta agro tecno park pupuk dan pestisida organik di lokasi penangkaran milik Hetts. (**)

DULU TERBIAR, KINI AGRO TECHNO PARK

SIAPA sangka, lahan seluas 1,3 hektar yang dulunya nyaris terbiarkan karena dianggap tidak lagi subur, kini berubah drastis menjadi areal produktif. Bahkan lahan yang sempat dibilang sebagai tempat ‘jin buang anak’ itu kini jadi kawasan percontohan.

Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) menjadikan tempat yang berlokasi di Dusun VII, Desa Timbang Lawan, Kecamatan Bahorok, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, itu sebagai laboratorium organik. Dibangun sejak tahun 2006, YEL menjadikan lahan yang awalnya hanya disebut demplot itu sebagai Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH), yang kemudian oleh pemerintah dilengkapi sarananya dan jadilah agro tecno park.

“PPLH Bahorok didirikan berlatarbelakang kegelisahan kami, bahwa sejak kejadian banjir bandang lalu banyak masyarakat hanya berharap pada belas kasihan. Apalagi nasib petani juga tidak kunjung membaik, ditambah ketergantungan mereka yang semakin besar terhadap pupuk kimia dan pestisida,” kata dr Sofyan Tan, Ketua YEL.

Mulailah, YEL berpikir untuk memberdayakan masyarakat petani lewat lahan percontohan. Mereka membeli tanah seluas 1,3 hektar yang sebenarnya bukan tanah subur. “Saya dibilang, bodoh banget, membeli tanah yang tidak subur. Tempat jin buang anak,” kenang Sofyan Tan.

Dibantu sejumlah sarjana yang punya pemahaman sama untuk membangun lahan yang tidak subur tersebut tanpa pupuk dan pestisida non organik, jadilah demplot yang mereka impikan terus berkembang memiliki sejumlah fasilitas percontohan yang lengkap.

“Hari demi hari, tanaman berkembang, ternak dan ikan juga berkembang. Inilah jadinya sekarang, masyarakat bisa ikut merasakan manfaatnya,” ujar Sofyan Tan.
Kawaasan yang hanya berjarak sekira 2,5 km dari lokasi wisata Bukit Lawang itu pun, Kamis (8/1) lalu diresmikan Gubernur Sumatera Utara H Syamsul Arifin SE, menjadi agro tecno park. “Ini sebagai tindak lanjut penandatanganan MoU antara Pemprovsu dengan YEL pada 27 Oktober 2008 lalu. YEL menyediakan lahan seluas 1,3 hektar ini beserta sejumlah sarana dan fasilitas di dalamnya, Pemprovsu melengkapinya dengan sejumlah alat teknologi sehingga layak disebut sebagai agro techo park atau taman teknologi pertanian,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Sumatera Utara, T Azwar Aziz.

Di antara sejumlah alat yang diberikan adalah mesin pencacah pembuatan kompos, solar cell, mikroskop, dan perangkat pembuatan biogas. Sebelumnya PPLH sudah mempunyai sejumlah sarana seperti laboratorium, perpustakaan, dan ruang pertemuan.

“Agro tecno park ini dibangun untuk memfasilitasi percepatan alih tehnologi pertanian yang dihasilkan pemerintah kepada masyarakat. Sekaligus pembangunan pertanian bersiklus biologi. Direncanakan jadi pusat percontohan bagi masyarakat dengan kegiatan pelatihan dan pemagangan, sekaligus jadi lokasi agro edu wisata” papar Azwar.

Kementerian Negara Riset dan Teknologi pun memberikan pujian atas gagasan pembangunan agro tecno park yang pertama kali dilakukan pihak swasta ini. Jika lainnya dibangun pemerintah dalam hal ini Kementerian Negara Riset dan Teknologi, sebaliknya Agro Tecno Park Bahorok ini dibangun YEL dengan dukungan pemerintah. Deputi Bidang Iptek Kementerian Negara Riset dan Teknologi Amin Subandrio saat peresmian kawasan Agro Tecno Park Bahorok, mengatakan, sampai saat ini ada tujuh agro tecno park yang telah dikembangkan di Indonesia, yakni di Sumatera Selatan, Gorontalo, Bali, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Barat, dan Bahorok Sumatera Utara.

“Namun Agro Tecno Park Bahorok ini harus mampu menciptakan komoditas unggulan agar mampu bersaing. Tetapi tetap melakukan diversifikasi dengan konsep bio cycle farming,” kata Amin. (**)


















Dari Biofiltrasi Hingga Aquaponic


MENGINJAKKAN kaki di areal Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bahorok, suasana teduh dan tenang laksana taman langsung terasa. Jajaran tanaman memagar lahan, kemudian suguhan aneka jenis tamaman sayuran, buah-buahan hingga bunga tertata apik di sekitar jalan setapak yang membawa kita masuk ke areal yang baru diresmikan menjadi agro tecno park ini.

Tak jauh menapakkan kaki dari pintu masuk, suara gemericik langsung terdengar dari jatuhnya air melalui pipa ke kolam-kolam ikan. Air datangnya dari kolam terdepan yang mirip rawa, karena banyak tetumbuhan air yang menyemak seperti mendong, gelagah, eceng gondok dan lain-lain.

“Ini kolam biofiltrasi atau penyaring. Banyak yang tanya, untuk apa membiarkan eceng gondok atau gelagah tumbuh di kolam. Padahal ini merupakan salahsatu cara untuk menetralisir air dari kandungan racun dan zat kimia. Jadi air sebelum masuk ke kolam ikan atau areal sawah terlebih dahulu dibersihkan, demikian juga setelah nantinya digunakan sebelum dibuang ke parit atau sungai,” kata Yenni Lucia, manager PPLH Bahorok.Beranjak dari situ, ada kolam ikan yang cukup lebar dibelah jembatan bambu.

Melintas di jembatan itu kita bisa menyaksikan aneka ikan berenang, serta lahan apung bak pulau-pulau di tengah kolam ditumbuhi aneka sayuran diantaranya kangkung akar.

Keseluruhan ada enam kolam ikan di areal ini, diisi ikan nila, tawes dan mas. Namun keberadaannya diselang-selingi lahan lainnya seperti kolam bebek, sawah seluas 1.000 m2, kebun polyculture yang diisi sekira 30 jenis sayur dan aneka tanaman buah serta obat-obatan, rumah pembibitan, rumah kompos, dan aquaponic.

“Aquaponic ini andalan kami. Di tanah yang kecil, mampu menghasilkan tiga produk sekaligus yakni ikan, sayur dan markisa. Ini cukup untuk menghidupi keluarga,” imbuh Ketua Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), dr Sofyan Tan.
Semua sistem atau mekanisme yang digunakan di kebun PPLH Bahorok ini adalah organik. Tanpa sedikitpun menggunakan pupuk atau pestisida non organic.Yenni mencontohkan, lokasi yang ditanami sayuran akan terlihat diselingi tanaman bunga seperti tagetes, kembang sepatu, jengger ayam dan lainnya. “Ini fungsinya sebagai perangkap, pengusir hama tanaman. Jadi tidak perlu menggunakan pestisida,” terang alumni IPB tahun 2005 ini.

Lalu soal aquaponic, sebuah kolam yang letaknya ada di belakang kebun, Yenni pun menjelaskan ini suatu sistem bertani yang berkelanjutan. Gabungan antara budidaya ikan (aquaculture), dan sistem hidroponik (tanaman dipelihara tanpa media tanah, kebutuhan nutrisi tanaman diberikan dalam bentuk larutan hara), dengan tanaman darat berupa buah markisa yang dibiarkan menjalari bamboo menjadi naungan kolam. “Di sini ada siklus terjadi. Kotoran dan sisa makanan ikan menjadi pupuk bagi tanaman. Sedangkan tanaman menjadi penyaring air yang alami untuk ikan di kolam tersebut,” ucap Yenni.

Model-model pertanian seperti inilah yang coba diajarkan para staf PPLH kepada para petani sekitar yang ikut belajar sekaligus bekerja di areal tersebut. Hasilnya positif, kelompok tani yang terbentuk sudah mulai menerapkan di lahan masing-masing walau dengan skala lebih kecil.

“Awalnya sempat bingung, tapi lama-lama jadi tahu dengan cara bertani seperti ini. Sekarang saya pun sudah mulai mencoba di lahan sendiri,” kata Uden, yang mengaku sudah dua tahun lebih belajar dan bekerja di lahan PPLH Bahorok.
Manfaat yang dirasakan? Uden tidak mau mengatakan produktivitas lahannya meningkat atau menurun. “Yang jelas, dari segi penghasilan bisa lebih besar,” ujarnya.

Karena secara ekonomis, harga sayur-sayuran organik yang dihasilkan Uden dkk dihargai lebih mahal. Konsumennya, para pemilik hotel atau penginapan di kawasan wisata Bukit Lawang. Utamanya bagi tamu-tamu Eco Lodge, sebuah cottage bernuansa alam yang juga dikelola YEL. (**)