Rabu, Februari 18, 2009

Capoeira : Game, Dance, dan Fight


CAPOEIRA merupakan sebuah olah raga bela diri yang dikembangkan oleh para budak Afrika di Brasil pada sekitar tahun 1500-an. Gerakan dalam capoeira menyerupai tarian dan bertitik berat pada tendangan. Pertarungan dalam capoeira biasanya diiringi oleh musik dan disebut Jogo. Capoeira sering dikritik karena banyak orang meragukan keampuhannya dalam pertarungan sungguhan, dibanding seni bela diri lainnya seperti Karate atau Taekwondo.
Capoeira adalah sebuah sistem bela diri tradisional yang didirikan di Brazil oleh budak-budak Afrika yang dibawa oleh orang-orang Portugis ke Brazil untuk bekerja di perkebunan-perkebunan besar. Pada zaman dahulu mereka melalukan latihan dengan diiringi oleh alat-alat musik tradisional, seperti berimbau (sebuah lengkungan kayu dengan tali senar yang dipukul dengan sebuah kayu kecil untuk menggetarkannya) dan atabaque (gendang besar), dan ini juga lebih mudah bagi mereka untuk menyembunyikan latihan mereka dalam berbagai macam aktivitas seperti kesenangan dalam pesta yang dilakukan oleh para budak di tempat tinggal mereka yang bernama senzala.
Ketika seorang budak melarikan diri ia akan dikejar oleh “pemburu” profesional bersenjata yang bernama capitães-do-mato (kapten hutan). Biasanya capoeira adalah satu-satunya bela diri yang dipakai oleh budak tersebut untuk mempertahankan diri. Pertarungan mereka biasanya terjadi di tempat lapang dalam hutan yang dalam bahasa tupi-guarani (salah satu bahasa pribumi di Brazil) disebut caá-puêra – beberapa ahli sejarah berpendapat bahwa inilah asal dari nama seni bela diri tersebut.
Mereka yang sempat melarikan diri berkumpul di desa-desa yang dipagari yang bernama quilombo, di tempat yang susah dicapai. Quilombo yang paling penting adalah Palmares yang mana penduduknya pernah sampai berjumlah sepuluh ribu dan bertahan hingga kurang lebih selama enam puluh tahun melawan kekuasaan yang mau menginvasi mereka. Ketua mereka yang paling terkenal bernama Zumbi.
Ketika hukum untuk menghilangkan perbudakan muncul dan Brazil mulai mengimport pekerja buruh kulit putih dari negara-negara seperti Portugal, Spanyol dan Italia untuk bekerja di pertanian, banyak orang negro terpaksa berpindah tempat tinggal ke kota-kota, dan karena banyak dari mereka yang tidak mempunyai pekerjaan mulai menjadi penjahat. Capoeira, yang sudah menjadi urban dan mulai dipelajari oleh orang-orang kulit putih, di kota-kota seperti Rio de Janeiro, Salvador da Bahia dan Recife, mulai dilihat oleh publik sebagai permainan para penjahat dan orang-orang jalanan, maka muncul hukum untuk melarang Capoeira.
Setelah kurang lebih setengah abad berada dalam klandestin, dan orang-orang mepelajarinya di jalan-jalan tersembunyi dan di halaman-halaman belakang rumah, Manuel dos Reis Machado, Sang Guru (Mestre) Bimba, mengadakan sebuah pertunjukan untuk Getúlio Vargas, presiden Brazil pada waktu itu, dan ini merupakan permulaan yang baru untuk capoeira.
Mulai didirikan akademi-akademi, agar publik dapat mempelajari permainan capoeira. Sejak masa itu hingga masa sekarang capoeira melewati sebuah perjalanan yang panjang. Saat ini capoeira dipelajari hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Di Medan Capoeira pertama sekali dikenal tahun 2004 di kampus Universitas Katholik Santo Thomas. Di mulai dari pemuda yang bernama Wahid Simanjuntak, yang mengenalkan jenis seni bela diri ini.
"Dari Bang Wahid-lah kami kenal Capoeira. Kami diperlihatkan seni bela diri sekaligus tarian yang menawan," ujar Daniel, Humas Jingga Fermi Medan yang biasa berlatih di Lapangan Merdeka.
Di Medan sendiri terdapat tiga titik latihan Capoeira. Di Lapangan Merdeka, di Unika yang saat ini Capoeira sendiri telah menjadi salah satu ekstrakurikuler, dan di Royal Sumatra. Dari ketiga titik ini, terdapat sekitar seratusan orang yang telah menjadi anggotanya.
“Capoeira mengandung tiga unsur, yaitu game, dance, dan fight. Dimana ketiga unsur ini menimbulkan sikap tentang persahabatan dan silahturahmi,” ujar Julius, salah seorang instruktur Capoeira. (**/dari berbagai sumber)

Selasa, Februari 17, 2009

BUDIDAYA MELATI, BISNIS YANG SEMAKIN MEKAR DAN HARUM

MELATI (Jasminum sp) termasuk tanaman hias yang mampu hidup bertahun-tahun. Batangnya yang tegak serta memiliki bunga berwarna putih mungil dan harum, sering digunakan untuk berbagai kebutuhan. Bunga melati bermanfaat sebagai bunga tabur, bahan industri minyak wangi, kosmetika, parfum, farmasi, penghias rangkaian bunga dan bahan campuran atau pengharum teh.
Melati pun dapat berbunga sepanjang tahun serta tumbuh subur pada tanah yang gembur dengan ketinggian sekitar 600 atau 800 meter di atas permukaan laut, asalkan mendapatkan cukup sinar matahari. Melati dapat dikembangbiakkan dengan cara stek. Tunas-tunas baru pun akan tampak setelah berusia sekitar 6 minggu.
Awalnya, tak banyak yang melirik budidaya bunga melati. Kesulitan dalam pemasarannya turut menjadi kendala utama.
Namun kini pengembangan usaha tani melati skala komersial mempunyai prospek cerah dan peluang pasarnya bagus. Tiap hari untuk keperluan tabur bunga dibutuhkan ratusan kilogram bunga melati.
Pasar potensial bunga melati adalah Jepang, Korea, Thailand, Taiwan dan Hongkong. Nilai ekonomi bunga melati semakin dibutuhkan dalam kehidupan maju (modern) untuk bahan baku industri minyak wangi, kosmetik, pewangi, penyedap the, cat, tinta, pestisida, pewangi sabun dan industri tekstil.
Meski peluang pasar bunga melati di dalam dan luar negeri cukup besar, produksi bunga melati Indonesia baru mampu memenuhi sekitar 2% dari kebutuhan melati pasar dunia. Fenomena ini menunjukan peluang yang perlu dimanfaatkan dengan baik di Indonesia karena potensi sumber daya lahan amat luas dan agroekologinya cocok untuk tani melati.
Hasil studi agribisnis melati yang dilakukan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura di Tegal (Jawa Tengah) menunjukan bahwa usaha tani melati menguntungkan dan layak dikembangkan.
Atau untuk lebih konkritnya, bisa menilik sukses yang telah dilakukan para petani melati di Desa Agropolitan Bejiharjo Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, yang membudidayakan tanaman bunga melati di Dusun Grogol I seluas satu hektar.
Tahap pertama dikembangkan seluas 3.500 meter persegi, hasil budidaya tiap kilogram dibeli Rp 30 ribu. Sedangkan produksi per seribu meter persegi tiap hari rata-rata mencapai satu kilogram. Hasil penen ini mulai dapat dipetik setelah tanaman berumur delapan bulan. Dengan rata-rata tiap hari menghasilkan 4 kilogram bunga melati, maka penghasilan perhari mencapai rata-rata Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu.
Kalau sudah begitu, tentu saja budidaya melati bisa jadi bisnis yang cukup menguntungkan, dan semakin hari prospeknya semakin mekar dan harum seiring mekar dan harumnya bunga tersebut di pagi hari. (**/dari berbagai sumber)